|
Sudahkan Anda Membuat Perencanaan Finansil Yang Cermat dan Cerdik Untuk Anda dan Keluarga Anda? |
|
Ditulis oleh Rina Dewi Lina
|
|
Selasa, 29 Desember 2009 05:03 |
|
Artikel:: Keuangan
http://www.wanitaonline.com/newsletter/dec2009/perencanaan-finansil.htm
Oleh Dra. Rina Dewi Lina MM. CFP® — Jakarta , Indonesia Anggota WOL di Mailing List, Facebook dan Multiply

Tentunya kita sering mendengar nasehat dan ceramah dari ahli agama "jangan menunda apa yang harus dilakukan. Selalu berdoa dan moho amppun kepada Tuhan, karena tak satu orangpun tahu berapa lama dia akan hidup. Jangankan besok, satu jam lagi pun kita tidak pernah tahu."
Apa yang dikatakan para ahli agama itu tentunya benar adanya. Lima tahun lalu, ada seorang teman yang datang kepada saya, untuk dibantu menguruskan asuransi kredit rumahnya. Kakaknya yang bernama Ida baru saja meninggal dunia. Sebelumnya, Ida adalah nasabah saya sebagai pemegang polis asuransi jiwa ketika Ida belum berkeluarga. Ketika Ida akan menikah, beliau memberhentikan asuransinya dan mengambil nilai tunai polis asuransi untuk menambah biaya pernikahannya. Pada tahun 2003, akhirnya Ida bersama suaminya memutuskan untuk membeli sebuah rumah dan mengambil kredit dari sebuah Bank. Atas pertimbangan bersama, rumah dan cicilan diambil atas nama Ida. Ketika itu Ida sedang mengandung anak ke 2, usia kandungannya 5 bulan. Sesuai persyaratan untuk mengambi l pinjaman di sebuah Bank, Ida membeli asuransi jiwa untuk meng-cover seluruh jumlah pinjaman dari perusahaan asuransi yang telah ditunjuk oleh Bank. Setelah selesai prosedurnya, maka dana dikucurkan oleh Bank dan rumah siap ditempati oleh Ida dan keluarganya. Sampailah pada waktu melahirkan. Karena sesuatu hal, Ida harus melalui proses operasi Caesar dalam melahirkan. Adanya pendarahan setelah operasi menyebabkan Ida meninggal dunia dengan meninggalkan bayi yang baru lahir,anak pertama yang berusia 2 tahun, dan suami tercinta.
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitu kata pepatah. Dalam kesedihan yang amat sangat, sang suami memanggil ibunya untuk membantu mengurus kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Belum habis kesedihannya, Sang Suami mendapat berita bahwa rumah yang ditempati akan disita oleh Bank, karena cicilan rumah belum dibayar beberapa bulan.
Ya, Tuhan … mengapa bisa begitu? Bukankah sudah membeli asuransi untuk melindungi keluarga secara finansil jika terjadi musibah seperti ini?. Usut punya usut, setelah saya tanyakan seluruh dokumen asuransinya, ternyata ketika mengajukan aplikasi untuk asuransi, almarhumah tidak menuliskan kondisinya yang sedang hamil 5 bulan.
|
|
Terakhir diperbaharui pada Rabu, 06 Januari 2010 13:19 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
AGEN ASURANSI JIWA SAHABAT KELUARGA |
|
Ditulis oleh Rina Dewi Lina
|
|
Minggu, 05 Juli 2009 19:57 |
AGEN ASURANSI JIWA SAHABAT KELUARGA Peran Agen Asuransi Jiwa Dalam Perencanaan Keuangan Keluarga
Dra. Rina Dewi Lina MM CFP®
Diterbitkan pada Insurance Digest, Infobank, edisi khusus, Mei 2009
Membuat perencanaan keuangan adalah aktifitas yang sangat biasa dilakukan sebuah keluarga. Seperti perencanaan belanja bulanan perencanaan dana pendidikan dan pensiun. Secara Umum, tujuan perencanaan keuangan agar sebuah keluarga tidak kesulitan secara finansial dalam memenuhi kebutuhan dan cita-cita keluarga. Walaupun rencana sudah dibuat dengan sangat matang, tetapi ada kejadian tidak pasti yang dapat menghambat. Kejadian tidak pasti ini biasa disebut resiko. Misalnya, ada keluarga yang harus di rawat di Rumah sakit karena demam berdarah, si pencari nafkah terkena sakit jantung, mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan cacat atau wafat.
Mengelola resiko atau manajemen resiko bertujuan untuk mengidentifikasi dan meminimalkan resiko dengan peningkatan kewaspadaan dan potensi dampak dari resiko tersebut. Ada beberapa cara pengelolaan resiko : Pertama, menghindari resiko, misalnya tidak merokok, selalu mengkonsumsi makanan sehat, bila tidak mau beresiko kecelakaan, maka tidak bepergian naik kendaraan. Pilihan kedua ,menerima resiko, yaitu pasrah dengan resiko yang akan terjadi misal tidak mengambil asuransi kesehatan, tetapi bila harus dirawat di rumah sakit, sudah menyiapkan biayanya. Pilihan yang ketiga, transfer resiko yaitu mentransferkan resiko kepada pihak ke tiga, atau perusahaan asuransi. Pelimpahan resiko kepada perusahaan asuransi dapat meminimalkan kerugian secara keuangan.
Resiko yang tidak terlalu besar biasanya dapat diatas sendiri, tetapi bagaimana bila si pencari nafkah tiba-tiba mengalami kecelakaan dan wafat, maka keluarga harus menyediakan minimal 5 x pengeluaran setahun, atau bila tiba-tiba terkena sakit kanker, dan memerlukan biaya sebesar 2 kali pengeluaran setahun? Maka solusi yang paling baik untuk resiko seperti ini adalah asuransi, karena asuransi jiwa direncanakan untuk melindungi nilai ekonomi dari sipencari nafkah.
Seorang agen asuransi berperan membantu nasabah mengidentifikasi jenis pelimpahan resiko yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan nasabah. Diperlukan komunikasi dua arah yang terbuka dengan nasabah agar dapat mengetahui rencana dari nasabah. Jangan sampai terjadi under insured , misalnya nasabah dengan penghasilan satu tahun seratus juta mempunyai uang pertanggungan seratus lima puluh juta.
Dengan komunikasi maka agen dapat mengidentifikasi kebutuhan dan kemampuan nasabah seperti :
1. Tujuan keluarga berasuransi dan resiko-resiko apa saja yang harus dipindahkan 2. Kebutuhan keluarga, termasuk jumlah uang pertanggungan yang diperlukan 3. Kemampuan keluarga untuk membayar premi dan jangka waktu membayar 4. Profile resiko investasi, terutama bila keluarga memilih produk asuransi plus investasi
|
|
Terakhir diperbaharui pada Senin, 06 Juli 2009 15:15 |
|
Selanjutnya...
|
|
Kenapa sih Financial Planner bilang asuransi itu perlu? |
|
Ditulis oleh Rina Dewi Lina MM, CFP®
|
|
Sabtu, 21 Februari 2009 23:04 |
|
Aduuuuuuuuh... paling males deh kalo ketemu temen yang agen asuransi, pasti dia nawarin asuransi, padahal gue males banget tuh sama yang namanya asuransi. Gak ada gunanya asuransi, uangnya ilang....wah males deh. Celetukan-celetukan seperti itu kerap kali terlontar dari mulut seseorang.
Sebenarnya apa sih asuransi itu? Kenapa kok financial planner selalu menyarankan punya asuransi, katanya kalau enggak punya asuransi, perencanaan keuangannya bisa tidak sukses terlaksana. Kita lihat dulu apa itu asuransi dan perlu atau tidaknya baru kita lihat hubungan perencanaan keuangan dengan asuransi. Berapakah uang yang bisa kita sisihan untuk menabung setiap bulannya? Tentunya jawabanya bervariasi, ada yang mengatakan Rp. 100.000,- atau Rp. 500.000,- atau bahkan Rp. 5.000.000,-. Dari sini kita dapat melihat kira-kira “gaya hidup” seperti apa dari mereka yang bisa menyisihkan setiap bulannya dengan jumlah tertentu. Misalnya saja setiap bulan kita bisa menyisihkan Rp. 1.000.000,- yang ditabungkan di bank. Tujuannya untuk uang masuk sekolah ananda tercinta. Dalam 3 tahun kira-kira uang kita akan terkumpul sebesar Rp. 36.000.000,- tanpa bunga. Kalau sebuah keluarga sudah bisa menyisihkan sebesar Rp. 1.000.000,- kemungkinan pengeluaran sebulannya sebesar Rp. 10.000.000,- . Mari kita baca 2 cerita dibawah ini : CERITA PERTAMA – DEMAN BERDARAH & TYPHUS Tiba-tiba saja ananda tercinta sakit panas. Dalam beberapa hari panasnya tidak turun, sehingga dokter menyarankan untuk di rawat di Rumah Sakit. Setelah observasi dengan segala macam pemeriksaan labolatorium akhirnya ananda divonis terkena demam berdarah. Ayah dan Ibu yang sangat mencintainya cemas dan menemaninya setiap hari di rumah sakit. Memerlukan kira-kira 5 sampai 6 hari perawatan dirumah sakit, dan memerlukan biaya sekitar 10 sampai 15 juta disebuah rumah sakit swasta kelas 1. Ibu yang selalu menemani ananda di rumah sakit karena terlalu capai akhirnya jatuh sakit terkena typhus dan harus dirawat di rumah sakit kurang lebih 4 hari. Memerlukan biaya kira-kira sebesar 8 juta rupiah. Kondisi seperti diatas adalah hal yang tidak terduga dan tidak dapat dihindari. Apa yang terjadi dengan tabungan yang dengan susah payah disisihkan setiap bulannya? Tentunya menjadi berkurang 23 juta (15 juta + 8 Juta). CERITA KEDUA – TIDAK DAPAT MENGIKUTI UJIAN AKHIR NASIONAL (UAN) (Kejadian sebenarnya) |
|
Terakhir diperbaharui pada Minggu, 05 Juli 2009 20:08 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|