| Menyiasati "ngopi" bisa punya uang 1,1 M |
| Ditulis oleh Rina Dewi Lina MM, CFP® | ||||||
| Kamis, 12 Februari 2009 00:46 | ||||||
Ada beberapa hal yang tidak bisa dihindari untuk pergi ke kafe. Kerjaanku yang membuat harus bertemu klien atau teman di kafe disaat pulang kantor. Paling kesel kalau keburu-buru, sehingga jalannya juga terburu, begitu sampai kafe nafas sudah "ngos-ngosan", terasa haus deh jadinya. Begitu duduk langsung pelayannya nyodorin menu, karena haus jadi pesan air mineral dan kopi karena terasa laper akhirnya aq pesen juga makanan. Setelah selesai, duuuuuuuh nyesek bener lihat air mineral harganya diatas Rp. 15.000,-, kopi yang harganya Rp. 25.000,- plus makanan yang aq pesan (walau enggak kenyang dan rasanya juga tidak terlalu enak) Rp. 40.000,-. Ditotal plus ppn yang harus dibayar Rp. 88.000,-. Wuihhhhhhhh.... hampir Rp. 100.000,-. Ini harus disiasati untuk mampir dikafe untuk urusan bisnis, tapi bagaimana caranya? Indi, anakku yang kecil sekarang ini kelas IX, jatah uang tambahan malam minggunya hanya sebulan 2x, itupun Rp. 50.000,-. Sedangkan tempat dia bermain dengan temannya adalah di Citos. Yang membuat aq heran,dia masih bisa pergi nonton dan makan dengan uang sebesar itu. Suatu hari aku ngobrol dengan Indi, aku tanya, kemana aja kalau pergi malam minggu? Sering Indi cerita ditraktir temennya, sehingga dia bisa nonton 2x dari sore hari dan aku tanya kok uangnya bisa cukup, kan enggak mungkin kalo ditraktir terus-terusan. Jawabannya bikin aku ketawa dan membuat aku sadar dan berpikir, ini dialog aq dengan Indi : Aku : De, kok bisa cukup uang yang dikasi mamah, kan kalo makan sama minum di Citos kan mahal!(Indi makannya banyak, bisa nambah 3 x, karena dalam masa pertumbuhan). Indi :yaaaaah mamah, uang yang dikasi mamah kan sedikit, jadi Ade (nama kecil dirumah) kalau makan, ya didepan Citos Aku (bingung) : didepan Citos mana? Indi : didepannya kesebelah samping sedikit... dipinggir jalan. Tanpa sengaja ilmu itu aku dapatkan dari anakku sendiri. Sekarang kalau aq harus pergi bertemu klien atau teman di kafe, kalau lapar aku makan dulu untuk mengganjal perutku dengan membeli makanan disupermarket, atau tempat makan lainnya. Aku juga membawa minum air putih selalu didalam tasku. Kalau tidak terpaksa aku tidak pesan makanan dari kafe, selain harganya mahal rasanya pun kurang enak. Kalau ke kafe aq hanya pesan kopi atau minuman satu jenis saja. Lumayan bisa menghemat Rp. 50.000,- setiap bertemu klien atau sedang melobi. Kalau saja seminggu aku bisa berhemat Rp. 100.000,- berarti sebulan Rp. 400.000,-. Apabila setiap bulan aku investasikan di Reksadana dengan hasil investasi 30% selama 10 tahun, dan 5 tahun kemudian hasil investasinya menjadi 1,1 Milyar. Wah sekarang aja aku enggak punya uang sebanyak itu. Ternyata bila kita bisa berhemat tanpa menurunkan gaya hidup dan dapat menempatkan pada instrumen investasi yang tepat, maka secara tidak sengaja kita sudah merencakan kaya dimasa tua.
Hanya pengguna terdaftar yang bisa menulis komentar!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||
| Terakhir diperbaharui pada Sabtu, 07 Maret 2009 22:42 |
Ada beberapa hal yang tidak bisa dihindari untuk pergi ke kafe. Kerjaanku yang membuat harus bertemu klien atau teman di kafe disaat pulang kantor. Paling kesel kalau keburu-buru, sehingga jalannya juga terburu, begitu sampai kafe nafas sudah "ngos-ngosan", terasa haus deh jadinya. Begitu duduk langsung pelayannya nyodorin menu, karena haus jadi pesan air mineral dan kopi karena terasa laper akhirnya aq pesen juga makanan. Setelah selesai, duuuuuuuh nyesek bener lihat air mineral harganya diatas Rp. 15.000,-, kopi yang harganya Rp. 25.000,- plus makanan yang aq pesan (walau enggak kenyang dan rasanya juga tidak terlalu enak) Rp. 40.000,-. Ditotal plus ppn yang harus dibayar Rp. 88.000,-. Wuihhhhhhhh.... hampir Rp. 100.000,-. Ini harus disiasati untuk mampir dikafe untuk urusan bisnis, tapi bagaimana caranya? 










